Hujan Tak Selamanya Indah
Minggu, 13 Mei 2018
Tiga hari menjelang Ramadhan
Ini adalah pertama kali aku mulai aktif isi blog Stories - All From My Heart.
Seperti judulnya sendiri "All From My Heart", semua cerita yang ada di hatiku, atau lebih tepatnya bisa dibilang unek-unek. Semua perkara yang mungkin sempat masuk ke pikiran dan kemudian bersarang di hati, yang kemudian bakal aku tuangin di sini.
So, keep away from this blog. Okay...
Berawal dari pagi hari seperti biasa. Bangun tidur, ke kamar mandi, sholat Subuh, buka pintu kamar, buka pintu rumah, dst. Nggak ada yang istimewa sih awalnya. Tapi waktu pukul 07.30 dan kebetulan hari ini adalah hari Minggu, yang artinya ada jadwal pasar di dekat rumahku, ada sebuah niat buat berangkat ke pasar dengan alasan cuma buat beli kelapa parut. Padahal sebenarnya tuh kelapa parut juga nggak penting-penting amat. Tapi, dari situ Tuhan benar-benar ingin menunjukkan sesuatu padaku. Sesuatu yang mungkin akan lebih berarti jika kubagikan dengan teman-teman semua.
Pukul 07.30 kuputuskan buat berangkat ke pasar. Di jalan tenang-tenang aja seperti biasa, cuma sedikit gerimis. Itupun nggak terlalu deras, hanya rintik kecil-kecil. Karena jarak yang nggak terlalu jauh, cukup lima menit aku sampai di tempat parkir pasar, tempat biasa aku markirin sepeda motorku. Dari situ, hujan udah mulai agak gedean, tapi masih bisa ditolerir.
Masuk ke pasar, disana udah banyak pedagang, mulai dari sayuran, lauk pauk, sandang, dll layaknya pasar tradisional pada umumnya. Oh iya, for your information aku udah sering banget ke pasar ini, jadi setiap sudut pasarnya udah aku hafalin banget. Karena aku maunya beli kelapa parut, akhirnya aku putusin buat jalan ke tempat penjual kelapa parut itu. Dan sampainya disana, yaa biasalah, bilang kalau mau beli kelapa parut habis itu kasih uang terus orangnya parutin kelapa pake mesin, lalu dikasih ke aku dan habis itu aku jalan lagi. Rencana awal sih mau langsung pulang, tapi kepikiran sama adikku yang di rumah. "Nggak salah, kan, kalau pulang bawa jajanan." batinku.
Akhirnya aku putusin buat masuk ke pasar lebih dalam buat beli tuh jajanan. Karena memang tempatnya penjual kue-kue pasar itu di dalam banget, kira-kira jalan 50 meter dari tempatku beli kelapa parut yang jaraknya sama tempat parkir kira-kira 15 meter.
Sesampainya di dunia jajanan, aku pilih-pilih habis itu beli dua bungkus, satu pisang coklat dan satu lagi kue gabin yang di dalamnya dikasih fla, nggak tahu sih apa namanya, tapi adikku beneran suka itu. Okay. Selesai beli, aku mau balik, dan disinilah kuasa Tuhan. Hujan tiba-tiba mengguyur dan spontan orang-orang yang pada jualan (yang mayoritas orang lanjut usia) bingung beresin barang dagangannya. Nyelametin barang dagangan dari guyuran hujan, yang memang di pasar itu nggak ada penutup atas atau nggak ada gentengnya. Ada sebagian sih yang inisiatif pake terpal, itupun juga pedagang yang masih bisa dibilang muda. Sedangkan mereka yang udah lansia cuma bisa pasrah dan nyelametin barang dagangan mereka sebisanya.
Kasihan dan pingin nolong. Itu yang tersirat dibenakku pertama kali.
Disaat sebagian orang mendambakan sebuah hujan, tapi sebagian yang lain merasa bahwa hujan adalah penyusut rejeki mereka. Di saat sebagian orang bahagia karena hujan, mungkin karena bisa berdiam diri di dalam rumah tanpa harus melakukan aktifitas outdoor, tapi ada juga sebagian orang yang harus tetap basah-basahan demi meraup beberapa sen uang untuk keperluan makanan mereka dan keluarga, padahal mereka tahu jumalh uang yang mereka dapatkan mungkin nggak setara sama usaha yang mereka lakukan.
Dari situ aku bisa mikir, sungguh merugi orang-orang yang meremehkan uang, yang suka hambur-hamburin uang padahal uang itu bukan jerih payah mereka. Lebih merugi lagi seorang anak yang hanya bisa minta uang sama orang tua tanpa tahu bagaimana kerja keras mereka. Yang seenaknya minta pulsa, minta handphone, minta laptop, dan minta segalanya tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang tua. Aku yakin, setiap orang tua pasti akan berusaha sekuat tenaga mereka buat penuhin kebutuhan sang anak, tapi setidaknya mengertilah. Di zaman seperti ini, dimana persaingan usaha sangat pelik dan kebutuhan menaik, nggak gampang yang namanya cari uang.
Nggak perlu lihat di atas kita. Karena di atas langit pasti ada langit. Sekuat apapun kalian berusaha buat minta ini itu sama orang tua, manusia nggak akan pernah merasa cukup. Akan ada keinginan lainnya setelah keinginan yang satu telah terpenuhi. Semakin kita memanjakan diri dengan segala sesuatu yang dengan mudahnya kita dapatkan dari kedua orang tua, maka semakin merugi kita saat di hari tua. Harta bukan selamanya. Ia tak abadi, mungkin saja bisa habis dimakan waktu. Dan saat gelimangan itu benar-benar pergi dari kita, nggak ada hal yang bisa kita lakukan kecuali mulai menyesal.
Dan sebelum itu terjadi, ada baiknya mengerem segala keinginan kita agar nantinya lebih terbiasa. Berusaha menghargai setiap sen yang diberikan orang tua. Tengoklah ke bawah. Masih banyak orang yang lebih menderita dan susah daripada kita. Jangan berpikir bahwa dirimu adalah yang paling menderita karena Tuhan bersama dengan prasangka umatnya.
Aku merasa berkecukupan. Tuhan itu Maha Baik. Dialah yang Maha Bijaksana. Jika hari ini orang tuaku belum bisa memenuhi, suatu saat pasti aku bisa memenuhi semua kebutuhanku sendiri.
Setidaknya tanamkan keyakinan itu pada diri sendiri.
Thanks a lot for you
The one who want to read my story
Who one to spend the time for this words.
Komentar
Posting Komentar